Krusialnews.online

Di Pojok Starling Kopi

"Suatu cerita tentang tawa, pertemanan, dan hal-hal yang diam-diam kita tinggalkan di malam hari.

Malam selalu punya cara sendiri untuk membuat manusia lebih jujur.

Di siang hari, kita sibuk menjadi seseorang.

Mengejar pekerjaan, menjawab pesan, menyembunyikan lelah, dan berpura-pura bahwa hidup sedang baik-baik saja. 

Namun, ketika malam turun dan jalanan mulai sepi, kita hanya ingin duduk, menyeruput kopi, lalu mendengarkan cerita orang lain.

Malam itu, kami berkumpul di sebuah pojok kecil, di bawah cahaya lampu jalan yang sesekali berkedip. 

Di depan kami, sebuah gerobak Starling Kopi berdiri sederhana, tetapi entah mengapa terasa seperti tempat paling mewah untuk menyimpan kenangan.

Ada yang duduk di kursi lipat. Ada yang bersandar di motor. Ada yang sibuk memainkan ponsel, padahal sebenarnya sedang menunggu seseorang memulai percakapan.

“Pesan kopi, jangan pesan masa lalu,” kata salah seorang dari kami sambil tertawa.
“Kalau masa lalu bisa dibayar pakai QRIS, mungkin sudah lunas dari kemarin,” sahut yang lain.

Tawa pecah.

Malam itu, kami tertawa seperti anak-anak yang belum pernah mengenal kecewa. 

Membicarakan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting: motor yang susah menyala, seseorang yang terlalu lama membalas pesan, cita-cita yang belum tercapai, dan rencana-rencana besar yang selalu terdengar lebih mudah ketika dibicarakan sambil minum kopi.

Di pojok itu, semua orang terlihat punya masa depan.

Namun, tidak semua orang benar-benar sedang baik-baik saja. 

Ada seorang teman yang lebih banyak diam. Sesekali ia tersenyum ketika yang lain tertawa. Ketika ditanya mengapa, ia hanya menjawab, “Tidak apa-apa, cuma kurang tidur.”

Kami tahu, terkadang “kurang tidur” adalah nama lain dari pikiran yang terlalu ramai.
Ia menatap jalan di depan kami.

Lampu kendaraan lewat seperti garis-garis cahaya yang sebentar muncul, lalu hilang. Entah apa yang sedang ia pikirkan. 

Mungkin tentang seseorang yang sudah tidak lagi menunggunya. Mungkin tentang rumah yang terasa jauh meskipun jaraknya tidak seberapa. 

Atau mungkin tentang dirinya sendiri, yang belakangan ini mulai sulit ia kenali.
“Kalau hidupmu sedang berat, kenapa tidak cerita?” tanya seorang teman.

Ia tersenyum kecil.
“Takut kalau diceritakan, ternyata tidak ada yang bisa mengubahnya.”

Tidak ada yang langsung menjawab.

Lalu seseorang menggeser gelas kopinya ke tengah meja.

“Kalau tidak bisa mengubah masalahmu, setidaknya kami bisa menemanimu meminumnya.”
Kami tertawa lagi.

Bukan karena kalimat itu lucu, tetapi karena terkadang manusia memang hanya membutuhkan alasan kecil untuk merasa tidak sendirian.

Malam semakin larut. Kopi mulai dingin. Es mencair. Jalanan semakin lengang. Namun, cerita kami belum selesai.

Ada yang bercerita tentang cinta yang kandas sebelum sempat menjadi rumah. 

Ada yang mengaku sedang berusaha melupakan seseorang, tetapi masih menyimpan namanya di daftar pencarian. 

Ada pula yang berkata ingin sukses sebelum usia tertentu, lalu tertawa ketika menyadari bahwa usianya sendiri sudah melewati batas yang ia buat.

“Tenang,” kata seorang teman, “hidup bukan perlombaan lari.”

“Memang bukan,” jawab yang lain, “tapi kenapa tagihannya seperti sedang mengejar?”
Kami kembali tertawa.

Di tempat kecil itu, kesedihan tidak pernah benar-benar diusir. 

Ia hanya diberi kursi, disuguhi kopi, lalu dibiarkan duduk bersama kami tanpa harus menjelaskan dirinya.

Barangkali, itulah yang membuat malam terasa indah.

Bukan karena semua masalah selesai.

Melainkan karena untuk beberapa jam, kami tidak harus menyelesaikan apa pun.

Kami hanya perlu hadir.

Hadir dengan pakaian seadanya. Dengan cerita yang berantakan. 

Dengan dompet yang kadang menipis. Dengan hati yang belum sepenuhnya sembuh. Dengan tawa yang kadang menjadi cara paling sederhana untuk bertahan.

Sebelum pulang, kami mengambil beberapa gambar.

Bukan karena malam itu luar biasa, tetapi karena kami tahu, suatu hari nanti, hal-hal sederhana seperti ini akan menjadi sesuatu yang paling dirindukan.

Kelak, mungkin kami tidak lagi duduk di kursi yang sama.

Mungkin sebagian dari kami sudah sibuk dengan pekerjaan. Mungkin ada yang pindah kota. Mungkin ada yang menikah. 

Mungkin ada yang tidak lagi punya waktu untuk sekadar bertanya, “Mau ngopi di mana malam ini?”

Dan mungkin, di antara semua perubahan itu, akan ada satu malam ketika seseorang membuka foto lama, lalu tersenyum sendirian.

Ia akan melihat gerobak kopi, motor-motor yang terparkir, jalanan yang gelap, dan wajah-wajah yang dulu begitu dekat.

Lalu ia akan berkata dalam hati “Ternyata, yang paling mahal dari secangkir kopi bukan rasanya. Melainkan orang-orang yang pernah meminumnybersama kita.”

Malam itu, kami pulang dengan tawa yang masih tersisa.

Tetapi di balik tawa itu, ada kesadaran kecil yang diam-diam tumbuh:

Tidak semua pertemuan diciptakan untuk berlangsung selamanya. Sebagian hanya datang untuk mengajarkan bahwa hidup, sesulit apa pun, akan terasa sedikit lebih ringan ketika dijalani bersama.

Dan di pojok Starling Kopi itu, kami pernah menjadi muda, pernah menjadi lucu, pernah menjadi sedih, dan pernah merasa bahwa duniameskipun sedang tidak baik-baik saja masih layak untuk ditertawakan.

Sebab, barangkali, kebahagiaan bukan tentang hidup tanpa luka. Melainkan tentang menemukan teman yang membuat kita lupa, sejenak, bahwa luka itu ada.


Cp_fd

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak