BONE– Upaya memperkenalkan pertanian modern di Desa Kajaolaliddong, Kecamatan Barebbo, Kabupaten Bone, tidak terlepas dari peran Burhanuddin, S.P. Sebagai petani muda sekaligus penggerak kelompok tani, ia berupaya mempertemukan pengalaman bertani dengan perkembangan teknologi.
Burhanuddin merupakan putra asli Kajaolaliddong yang lahir di Bakke pada 7 Juni 1998. Setelah menyelesaikan pendidikan Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin pada 2021, ia memilih kembali ke desa dan terlibat langsung dalam pengembangan pertanian.
Saat ini, Burhanuddin menjabat sebagai Ketua Kelompok Tani Mabbiring dan Ketua P4S Lamellong. Ia memandang pertanian sebagai sektor yang menjanjikan sekaligus membutuhkan generasi muda untuk menjaga keberlanjutannya.
“Sektor pertanian sangat menjanjikan dan peluangnya besar. Selain itu, ada panggilan untuk hidup slow living ada pada sektor pertanian, serta perlu adanya regenerasi petani. Kami butuh petani muda,” ujarnya.Pada 2023, Burhanuddin menginisiasi P4S Lamellong sebagai wadah pembelajaran bagi petani. Dua tahun kemudian, ia dipercaya memimpin Kelompok Tani Mabbiring menggantikan ketua sebelumnya yang telah sepuh.
Tantangan sebagai petani termuda di kelompok tidak membuatnya mundur. Justru, posisi tersebut menjadi kesempatan untuk membangun komunikasi dengan petani senior sekaligus memperkenalkan pendekatan baru dalam kegiatan pertanian.
Kesempatan itu semakin terbuka melalui Program Mannennungeng: Smart Hydro Loop yang diinisiasi Tim PPK Ormawa UKM KPI Universitas Hasanuddin. Program tersebut memperkenalkan penerapan pertanian cerdas, salah satunya melalui smart farming menggunakan AWD IoT.
Burhanuddin berperan sebagai jembatan antara mahasiswa dan masyarakat dalam proses pendampingan tersebut.
“Selain didampingi secara teknis, terutama smart farming menggunakan AWD IoT, kami juga dihubungkan dengan instansi terkait yang dapat mendukung usaha tani di desa kami. Respons petani sangat antusias, terutama karena ada wawasan baru tentang teknologi berbasis IoT,” jelasnya.
Tidak hanya petani senior, generasi muda juga dilibatkan dalam proses pengenalan teknologi. Mereka mendapatkan pelatihan perakitan alat smart AWD IoT yang diharapkan dapat menjadi bekal untuk mengembangkan kemampuan di bidang pertanian.
Burhanuddin melihat langkah tersebut sebagai bagian dari upaya membangun pertanian yang lebih adaptif. Menurutnya, anak muda perlu memiliki kesempatan untuk mengenal teknologi sekaligus memahami praktik pertanian secara langsung.
Sebagai Ketua P4S Lamellong, ia juga memastikan pengetahuan yang diperoleh dapat diteruskan kepada masyarakat.
“Tugas kami sebagai P4S adalah memberikan pelatihan kepada petani. Apa yang ditinggalkan tim Mannennungeng akan kami ajarkan juga kepada petani di sekitar, sehingga program ini bisa terus berjalan dan bahkan direplikasi di tingkat nasional,” tegasnya.
Dampak program mulai dirasakan melalui meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pertanian modern dan terintegrasi.
Burhanuddin juga melihat peluang peningkatan kesejahteraan petani seiring dengan meningkatnya pengetahuan dan keterampilan.
Ia mengapresiasi kolaborasi dengan mahasiswa yang menurutnya tidak hanya memberikan pendampingan teknis, tetapi juga membangun interaksi melalui kegiatan gotong royong dan pertukaran pengetahuan.Ke depan, Burhanuddin ingin Kelompok Tani Mabbiring memiliki kelembagaan yang semakin kuat dan P4S Lamellong berkembang sebagai pusat pembelajaran serta inovasi pertanian di desa.
“Keterlibatan seluruh elemen menjadi poin penting dalam keberlanjutan program,” tambahnya.
Ia pun mengajak generasi muda untuk tidak ragu masuk ke sektor pertanian.
“Pertanian adalah sektor yang menjadikan kita kuat. Tanpa pangan, kita tidak akan bertahan. Kita butuh regenerasi, karena rata-rata petani kita sudah tua. Sudah saatnya anak muda turun ke sawah dan menjadi bagian dari perubahan,” pungkasnya.


