Krusialnews.online

Kisah Tolioli Kelurahan Wolo,Kehilangan Tanah Produktif Akibat Dampak Aktivitas PT Ceria Nugraha Indotama

Kolaka, Krusialnews.com — Wilayah perkebunan produktif yang dulunya menjadi sumber penghidupan masyarakat petani tolioli di Kelurahan Wolo, Kecamatan Wolo, Kabupaten Kolaka, kini tinggal kenangan. 

Masuknya aktivitas pertambangan PT Ceria Nugraha Indotama (CNI) tanpa upaya mitigasi yang memadai telah mengubah kawasan subur tersebut memaksa para petani lokal kehilangan tanah dan mata pencaharian mereka (6 Agustus 2026).

​Jejak Kejayaan Agraris Sebelum Tahun 2017
​Berdasarkan hasil investigasi lapangan yang dilakukan di lokasi, kawasan ini pada tahun 2017 ke bawah merupakan sentra perkebunan produktif masyarakat setempat. Segala jenis tanaman tumbuh subur terutama coklat dan menghasilkan panen yang melimpah bagi warga yang menggantungkan hidupnya dari hasil bumi.

​Haeruddin Azis, salah seorang warga sekaligus petani setempat yang menjadi saksi sejarah kelam wilayah tersebut, menceritakan bagaimana kondisi tanahnya di masa lalu.
​"Dulu memang apa saja ditanam, tumbuh subur. Tanaman di sini berproduksi semua karena tanahnya sangat subur. 

Segala macam tanaman kami tanam dan menghasilkan," kenang Haeruddin Azis.
​Dampak Kelalaian Mitigasi Perusahaan
​Perubahan drastis mulai dirasakan warga seiring dengan masuknya operasional PT Ceria Nugraha Indotama (CNI).

Aktivitas pertambangan yang dilakukan perusahaan diduga kuat mengabaikan aspek lingkungan hidup, khususnya dalam hal pengelolaan tata air dan drainase kawasan sekitar.

​Akibat kelalaian dalam menjalankan upaya mitigasi dampak lingkungan, wilayah perkebunan warga perlahan-lahan tergenang air Rumah-rumah kebun yang dulunya menjadi tempat peristirahatan para petani kini mangkrak 
​"Setelah adanya perusahaan, kami sudah tidak bisa lagi menanam karena digenangi air. 

Mau tidak mau, kami harus meninggalkan kebun ini. Bahkan rumah saya sendiri, tempat di mana saya tinggal selama bertahun-tahun dan anak-anak saya dilahirkan, terpaksa harus ditinggalkan," tutur Haeruddin dengan nada berat.

​Antara Bertahan dalam Ancaman atau Pergi Mengungsi
​Bagi masyarakat lokal, tanah leluhur dan perkebunan bukan sekadar tempat mencari makan, melainkan identitas dan ruang hidup. Namun, genangan air parah yang diakibatkan oleh aktivitas pertambangan menghilangkan segala bentuk harapan hidup di sana.

​"Seandainya perusahaan tidak merusak dan menggenangi wilayah ini, tentu kami tidak akan pernah mau meninggalkannya. Tapi jika bertahan di sini sama saja menunggu kematian karena sumber kehidupan sudah tidak ada, terpaksa kami harus mencari jalan lain dan keluar dari perkebunan tolioli," ungkapnya.

​Tuntutan Tanggung Jawab dan Perhatian Pemerintah Hingga saat ini, kondisi memprihatinkan yang dialami oleh para petani tolioli di Kelurahan Wolo ini masih luput dari perhatian luas, baik dari pihak pemerintah daerah maupun instansi terkait. Minimnya keterbukaan informasi dan belum adanya penanganan konkret membuat kerugian masyarakat seolah tenggelam di balik megahnya aktivitas industri ekstraktif.

​Melalui laporan investigasi ini, diharapkan pihak berwenang, pemerintah pusat maupun daerah, serta manajemen PT Ceria Nugraha Indotama (CNI) segera membuka mata terhadap realitas pahit yang ditinggalkan di lapangan. Keadilan ekologis dan hak-hak masyarakat lokal atas ruang hidup yang layak merupakan persoalan mendesak yang harus segera diselesaikan.

Petani Tolitoli menuntut ganti rugi tanaman sampai saat ini belum terealisasikan. 

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak