Kolaka, Krusialnews.online—Mosi Tidak Percaya terhadap Satgas PPKPT, Kampus seharusnya menjadi ruang yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan serta pelecehan seksual.
Kampus bukan hanya tempat untuk menuntut ilmu, tetapi juga ruang untuk membangun karakter, menjaga martabat, dan memastikan setiap sivitas akademika mendapatkan perlindungan yang adil.
Namun, ketika muncul dugaan kasus pelecehan seksual di lingkungan Universitas Sembilanbelas November Kolaka, pertanyaan besar muncul di tengah mahasiswa: sejauh mana kampus benar-benar hadir dalam memberikan perlindungan dan keadilan kepada korban?
Mosi tidak percaya yang disuarakan bukan semata-mata bentuk perlawanan terhadap institusi atau individu tertentu. Ini adalah bentuk kegelisahan mahasiswa terhadap transparansi, kecepatan, dan keseriusan penanganan dugaan kasus yang menyangkut keselamatan serta martabat warga kampus.
Kami tidak ingin kampus menjadi ruang di mana korban merasa takut untuk berbicara, sementara dugaan pelanggaran justru tenggelam dalam ketidakjelasan.
Kami menuntut:
Transparansi dalam proses penanganan laporan sesuai ketentuan yang berlaku.
Perlindungan terhadap korban dan pelapor, termasuk jaminan bebas dari intimidasi, tekanan, maupun pembalasan.
Penanganan yang cepat, profesional, independen, dan berpihak pada keadilan.
Akuntabilitas Satgas PPKPT dalam menjalankan tugas dan kewenangannya.
Kepastian bahwa setiap laporan ditindaklanjuti secara serius, tanpa memandang jabatan, status, maupun latar belakang pihak yang terlibat.
Terwujudnya kampus yang aman bagi seluruh mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan.
Kami percaya bahwa menyuarakan keresahan bukan berarti menghakimi.
Menuntut transparansi bukan berarti menuduh. Dan memperjuangkan perlindungan korban bukan berarti mengabaikan asas praduga tak bersalah.
Justru karena kita ingin menjaga nama baik Universitas Sembilanbelas November Kolaka, maka setiap dugaan kasus harus ditangani secara serius, terbuka sesuai batas kerahasiaan yang wajib dijaga, dan berdasarkan prosedur yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kampus aman bukan sekadar slogan.
Keadilan bukan sekadar laporan.
Perlindungan korban bukan sekadar formalitas.
Jika benar kampus adalah rumah bagi seluruh mahasiswa, maka rumah itu harus aman untuk semua.
Mosi Tidak Percaya bukan akhir dari perjuangan.
Ini adalah seruan agar kampus berbenah, mendengar, dan memastikan keadilan berjalan.
USN Kolaka harus menjadi kampus yang aman, berintegritas, dan berpihak pada keadilan.
