Makassar, Krusialnews.online — Sebagai bagian dari rangkaian program kerja individu KKN-T Prestasi Gelombang 116 Universitas Hasanuddin, Siti Aulia Felinda Wijaya, mahasiswa Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), melaksanakan program Pemetaan Persebaran Kelompok Usia Rentan di Kampung Herbal Harmony, RT 009/RW 006,
Kelurahan Berua, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.
Program kerja individu ini dilakukan dengan mengolah data kependudukan
masyarakat menjadi informasi spasial yang dapat menunjukkan keberadaan dan
persebaran kelompok usia di kawasan permukiman.
Pemetaan tersebut menjadi
salah satu upaya untuk melihat kondisi masyarakat tidak hanya berdasarkan jumlah
penduduk, tetapi juga berdasarkan karakteristik kelompok usia dan lokasi
persebarannya.
Dalam pelaksanaannya, penduduk dikelompokkan ke dalam beberapa kategori,
yaitu lansia-pralansia, balita, anak usia sekolah, dan wanita usia subur (WUS).
Setiap kelompok kemudian ditampilkan menggunakan simbol dan warna yang
berbeda pada peta sehingga lokasi persebarannya dapat dikenali secara visual.
Berdasarkan hasil pendataan yang divisualisasikan dalam peta, kelompok wanita
usia subur (WUS) memiliki persentase sebesar 37,14%, kemudian lansia-pralansia
sebesar 30,48%, anak usia sekolah sebesar 20%, dan balita sebesar 11,43%.
Data tersebut memberikan gambaran mengenai komposisi kelompok masyarakat yang
terdapat di kawasan Kampung Herbal Harmony.
Namun, pemetaan ini tidak hanya bertujuan untuk menunjukkan persentase
masing-masing kelompok.
Hal yang menjadi fokus utama adalah mengetahui bagaimana kelompok-kelompok tersebut tersebar di dalam kawasan.
Melalui peta,lokasi keberadaan masing-masing kelompok dapat dilihat secara lebih jelas
sehingga informasi kependudukan yang sebelumnya berupa data angka dapat
dipahami dalam konteks ruang.
Peta persebaran kelompok usia penting karena dapat menjadi informasi dasar
dalam mengenali karakteristik masyarakat dan mengidentifikasi kebutuhan kawasan.
Setiap kelompok usia memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda, sehingga
informasi mengenai lokasi persebarannya dapat membantu memberikan gambaran
mengenai aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam lingkungan permukiman.
Keberadaan balita dan anak usia sekolah, misalnya, dapat menjadi informasi
pendukung dalam melihat kebutuhan terhadap fasilitas maupun kegiatan yang
berkaitan dengan pendidikan, aktivitas anak, dan tumbuh kembang. Sementara itu, persebaran lansia dan pralansia dapat menjadi pertimbangan dalam memahami
kebutuhan terhadap pelayanan kesehatan, aksesibilitas, serta lingkungan yang
aman dan nyaman bagi kelompok usia lanjut.
Selain itu, persebaran wanita usia subur juga dapat menjadi informasi pendukung
dalam melihat kebutuhan pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan kesehatan
reproduksi, kesehatan ibu dan anak, maupun kegiatan sosial kemasyarakatan.
Dengan mengetahui lokasi kelompok masyarakat tersebut, kegiatan dan pelayanan
yang berkaitan dengan kebutuhan mereka dapat lebih mudah dipahami dari sisi
persebarannya.
Dari sudut pandang perencanaan wilayah, informasi seperti ini dapat digunakan
sebagai data dasar dalam menentukan prioritas dan mendukung perencanaan
kawasan. Peta dapat membantu menunjukkan bagian kawasan yang memiliki
keberadaan kelompok tertentu sehingga kebutuhan masyarakat dapat
dipertimbangkan secara lebih kontekstual, bukan hanya berdasarkan data jumlah
penduduk secara keseluruhan.
Peta ini juga dapat menjadi media komunikasi dan dokumentasi kependudukan bagi
masyarakat. Informasi yang disajikan secara visual memungkinkan kondisi
demografi kawasan dipahami dengan lebih cepat dibandingkan apabila hanya
disajikan dalam bentuk tabel atau angka. Dengan demikian, masyarakat dapat
memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai karakteristik penduduk di lingkungan
tempat tinggalnya.
“Melalui pemetaan ini, saya ingin mengubah data kependudukan menjadi informasi
yang lebih mudah dilihat dan dipahami. Tidak hanya mengetahui jumlah kelompok
usia, tetapi juga melihat bagaimana kelompok tersebut tersebar di dalam kawasan.
Informasi ini diharapkan dapat menjadi data awal untuk memahami kebutuhan
masyarakat,” ujar Siti Aulia Felinda Wijaya.
Penyusunan peta dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari pengumpulan data
kependudukan, pengelompokan penduduk berdasarkan kategori usia, penentuan
lokasi pada kawasan, pengolahan data spasial, hingga penyajian dalam bentuk peta
tematik. Hasil pengolahan tersebut kemudian divisualisasikan dalam Peta
Persebaran Kelompok Usia Rentan Kampung Herbal Harmony.
Sebagai salah satu program kerja individu KKN-T Prestasi Gelombang 116, kegiatan
ini menjadi bentuk penerapan ilmu Perencanaan Wilayah dan Kota dalam mengolah
data sosial-demografi menjadi informasi spasial.
Pemetaan tidak hanya
menghasilkan sebuah produk visual, tetapi juga menyediakan informasi yang dapat
digunakan untuk mengenali karakteristik masyarakat, mengidentifikasi kebutuhan
kelompok usia, mendukung penentuan prioritas pelayanan, serta menjadi bahan
awal dalam perencanaan lingkungan permukiman.
Melalui program ini, diharapkan peta persebaran kelompok usia dapat menjadi
dokumentasi dan informasi dasar bagi Kampung Herbal Harmony dalam memahami
kondisi masyarakatnya.
Dengan adanya informasi yang berbasis lokasi, karakteristik
penduduk dapat dilihat secara lebih menyeluruh dan dapat menjadi salah satu
pertimbangan dalam upaya menciptakan lingkungan permukiman yang lebih sesuai
dengan kebutuhan masyarakat.
Tags
Makassar
